Selasa, 17 Februari 2026

Finally, Malacca


Malaka atau dalam bahasa setempat dikenal dengan Melaka yang terkenal dengan Bandaraya Bersejarah, bagaimana tidak, kota ini berada di jalur yang ramai yakni Selat Malaka yang menjadi rebutan banyak pihak di zaman kolonial, mulai dari Bangsa Portugis, Belanda, lalu Inggris. Kota Malaka sendiri merupakan ibukota Negara Bagian Melaka di Malaysia semenanjung. Kota ini menjadi destinasi impianku sejak lama, selain karena sering disebut-sebut dalam buku sejarah kala sekolah, tapi juga karena kota ini pernah sampai "diselamatkan" oleh rombongan Ratu Kalinyamat yang berlayar jauh-jauh ke sana. Hal itulah yang membuat aku makin penasaran, memang seberapa keren Malaka.

Dan akhirnya setelah sekian purnama, Januari 2026 aku kesampaikan juga mengunjungi Kota Malaka, meski hanya beberapa jam, tapi bagiku cukup untuk mengubur rasa penasaran yang sudah lama ini.

Perjalanan ke Malaka aku mulai dari Singapura dengan menaiki bus dari Terminal Queen Street di daerah Rochor dekat dengan Bugis. Perjalanan yang kurang riset ini tentu saja ngga berjalan mulus begitu saja, banyak drama tentunya. Mayoritas bus dari SG ke Malaysia itu sudah bisa dibooking online lewat berbagai aplikasi, termasuk redbus. Tapi karena kurang persiapan akhirnya hari itu semua bus online sudah ludes terjual. Alhasil setelah banyak plan, alhamdulillah dapat petunjuk untuk ke terminal terdekat dan mencoba beli offline, ternyata ada. Dan tolong disiapkan uang cash ya, karena transaksi ngga bisa pakai kartu atau QR. Setelah beli tiket, jangan lupa isi imigrasi kedatangan online lewat web atau aplikasi ya. Untuk versi webnya yang ini https://imigresen-online.imi.gov.my/mdac/main.

Agen Tiket Bus 707-Inc di Queen St. Bus Terminal, Ban Ban St., Rochor

Tampak Depan bus 707-Inc

Tampak Dalam Bus 707-Inc Executive Seat

Sebelumnya terima kasih buat Uncle yang jaga Agen Bus 707-Inc di Singapore yang ramah dan care. Kalo diminta menyebutkan salah satu keunggulan layanan di Indonesia dibandingkan dengan Singapura atau Malaysia mungkin aku akan menyebutkan soal layanan bus. Bus jurusan Jepara - Jakarta misalnya, memiliki kelas eksekutif yang sepertinya jauh lebih baik dari kualitas bus milik Singapura, lebih nyaman dan berkelas, apalagi sekarang ada yang tipe sleeper. Tetapi kalau soal safety, sepertinya Indonesia tetap ketinggalan ya. Perjalanan bus di Malaysia mewajibkan semua penumpang mengenakan sabuk pengaman, selain itu supirnya juga ngga ugal-ugalan, jadi selama di jalan penumpang tetap merasa nyaman dan bisa tidur dengan lelap.

Perjalanan dari Singapura ke Malaka membutuhkan waktu tempuh sekitar 4 jam, melewati jalan toll North-South Expressway. Selama perjalanan disuguhkan pemandangan kebun sawit dan kota-kota di sekitar Johor dan Malaka yang sepertinya sudah maju karena terlihat banyak bangunan skyscaper menjulang tinggi.

Melewati Jalan Toll Malaysia yang Membolehkan Sepeda Motor Lewat Jalur Toll

Setelah empat jam perjalanan akhirnya sampai juga di Malaka, setelah exit toll melewati beberapa kota kecil yang kurasa vibesnya seperti di Indonesia terutama bagian Sumatra.

Menjumpai Abang-abang yang Berjaga Saat Perbaikan Jalan di Sekitar Bandara Malaka

Perjalanan dari Singapura sekitar jam 9.30 tiba di Terminal Bus Melaka Sentral pukul 2.00 siang. Barang berat yang dibawa bisa dititipkan di penitipan barang di dalam terminal sebelum naik Grab ke Titik Nol Malaka. Titik Nol Malaka atau yang lebih dikenal dengan Dutch Square atau Red Square atau Stadthuys merupakan kawasan yang luas di sekitaran Benteng Malaka. Kawasan Melaka sendiri merupakan warisan zaman Portugis sebelum beralih ke Belanda. Namun, bangunan bentukan VOC Belanda ini kini sudah banyak berubah, terutama bentengnya karena setelah berpindah tangan ke Inggris banyak bangunan dihancurkan untuk mencegahnya digunakan oleh musuh. Sesampainya di Titik Nol Malaka, berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan.

Minggu, 04 Januari 2026

Kosakata Jepara yang Jarang Kudengar (Lagi)

Holaaa, sahabat bloggerku, ah rasanya rindu sekali, so looonggg time ago aku ngga nulis ya, more than 2 years, padahal sejatinya banyak banget hal-hal yang ingin aku tulis, dari covid-19, berbagai perjalananku, karir, traveling, dan hal-hal unik yang aku temukan di buku-buku yang aku baca. Namun, kali ini ijinkan aku menulis hal ringan dulu ya sebagai pembukaan mulainya kembali seorang Sadam menulis di blog ini.

Saat aku pulang ke Jepara teriba terlintas sepertinya banyak kosakata dalam bahasa Jawa lokal yang saat ini jarang dilafalkan. Memang kosakata apa? Apa bedanya dengan bahasa Jawa pada umumnya?

Kita tentu tahu bahwa Indonesia dengan luas wilayah daratan mencapai 1,9 juta km2 dengan jumlah penduduk mencapai 283,5 juta jiwa (2024) memiliki beragam bahasa, adat, dan budaya. Di Jawa Tengah sendiri yang mayoritas masyarakatnya menuturkan Basa Jawa sebagai bahasa ibu dan bahasa keseharian nyatanya memiliki banyak ragam, secara garis besar dibagi menjadi beberapa kelompok yang disebut dialek, seperti Dialek Banyumasan (aku setuju ini merupakan ragam bahasa sendiri karena perbedaannya juga banyak), Dialek Semarangan, Dialek Surakarta, Dailek Kedu, dan tentunya Dialek Jepara-Rembang (ada yang menyebutnya Dialek Aneman). 

Di Jepara sendiri, meski dalam satu kabupaten ternyata banyak penutur yang memiliki ciri khas atau gaya yang berbeda, meskipun tidak begitu kentara. Misal yang aku pahami, wilayah tertentu memiliki imbuhan atau intonasi yang cukup unik, seperti Mantingan - Kedung dengan kata "ndok", Suwawal - Pakis Aji dengan kata "nde", atau Jepara utara seperti Kembang - Keling yang turut menggunakan kata "-em" sebagai pengganti kata imbuhan "-mu" seperti orang Pati dan Kudus.

Buat kalian yang belum tahu, bahwa Dialek Aneman yang dituturkan masyarakat Jepara sampai sebagian Tuban - Lamongan di Jawa Timur, dan sebagian masyarakat Demak memang mempunyai banyak perbedaan dengan tetangganya, seperti Dialek Semarangan atau Surakarta, misalnya untuk kalimat "Kamu lebih suka jeruk apa anggur?", dalam Dialek Semarangan atau Surakarta diucapkan "Kowe pilih jeruk opo anggur?", sedangkan dalam Dialek Aneman diucapkan "Kuwe pilih jeruk tah anggur?". Dan masih banyak lagi. Perbedaan ini terasa sekali dalam kelas bahasa Jawa Ngoko, sedangkan untuk kelas Bahasa Krama Alus atau Krama Lugu mayoritas menuturkan ragam dialek yang sama, bahkan termasuk Banyumasan.