Holaaa, sahabat bloggerku, ah rasanya rindu sekali, so looonggg time ago aku ngga nulis ya, more than 2 years, padahal sejatinya banyak banget hal-hal yang ingin aku tulis, dari covid-19, berbagai perjalananku, karir, traveling, dan hal-hal unik yang aku temukan di buku-buku yang aku baca. Namun, kali ini ijinkan aku menulis hal ringan dulu ya sebagai pembukaan mulainya kembali seorang Sadam menulis di blog ini.
Saat aku pulang ke Jepara teriba terlintas sepertinya banyak kosakata dalam bahasa Jawa lokal yang saat ini jarang dilafalkan. Memang kosakata apa? Apa bedanya dengan bahasa Jawa pada umumnya?
Kita tentu tahu bahwa Indonesia dengan luas wilayah daratan mencapai 1,9 juta km2 dengan jumlah penduduk mencapai 283,5 juta jiwa (2024) memiliki beragam bahasa, adat, dan budaya. Di Jawa Tengah sendiri yang mayoritas masyarakatnya menuturkan Basa Jawa sebagai bahasa ibu dan bahasa keseharian nyatanya memiliki banyak ragam, secara garis besar dibagi menjadi beberapa kelompok yang disebut dialek, seperti Dialek Banyumasan (aku setuju ini merupakan ragam bahasa sendiri karena perbedaannya juga banyak), Dialek Semarangan, Dialek Surakarta, Dailek Kedu, dan tentunya Dialek Jepara-Rembang (ada yang menyebutnya Dialek Aneman).
Di Jepara sendiri, meski dalam satu kabupaten ternyata banyak penutur yang memiliki ciri khas atau gaya yang berbeda, meskipun tidak begitu kentara. Misal yang aku pahami, wilayah tertentu memiliki imbuhan atau intonasi yang cukup unik, seperti Mantingan - Kedung dengan kata "ndok", Suwawal - Pakis Aji dengan kata "nde", atau Jepara utara seperti Kembang - Keling yang turut menggunakan kata "-em" sebagai pengganti kata imbuhan "-mu" seperti orang Pati dan Kudus.
Buat kalian yang belum tahu, bahwa Dialek Aneman yang dituturkan masyarakat Jepara sampai sebagian Tuban - Lamongan di Jawa Timur, dan sebagian masyarakat Demak memang mempunyai banyak perbedaan dengan tetangganya, seperti Dialek Semarangan atau Surakarta, misalnya untuk kalimat "Kamu lebih suka jeruk apa anggur?", dalam Dialek Semarangan atau Surakarta diucapkan "Kowe pilih jeruk opo anggur?", sedangkan dalam Dialek Aneman diucapkan "Kuwe pilih jeruk tah anggur?". Dan masih banyak lagi. Perbedaan ini terasa sekali dalam kelas bahasa Jawa Ngoko, sedangkan untuk kelas Bahasa Krama Alus atau Krama Lugu mayoritas menuturkan ragam dialek yang sama, bahkan termasuk Banyumasan.